Selasa, 14 September 2010

diary satu hari

dear diary,
ga nyangka halaman terakhir kamu tertanggal tepat 3 tahun yang lalu
maaf ya, aku ngelupain kamu gara2 tugas kuliah, hehe
ga kerasa juga udah selama itu pula aku ga berbagi cerita sama kamu
susah, sedih, senang, udah aku rasain gitu aja tanpa kamu tau
ga sengaja juga sih nemuin kamu
tapi gapapa kan kali ini aku mau cerita lagi?

dear diary,
bolehkan aku ngasih judul ke kamu di curhatan kali ini?
aku kasih judul cerita hari ini

"Tangis Bahagia dan Senyum Kecewa"
hari ini adalah hari wisudaku
saat dimana paling melegakan bagi para mahasiswa
saat (mungkin) paling bangga di seluruh hidupku
karena dengan ini aku bisa mulai menjalani hidup dengan menggantungkannya pada diriku sendiri
aku hanya bisa menangis tadi
toga menjadi saksi bisu bagaimana derasnya airmataku
teman2ku semua bertanya kenapa aku menangis sebegitu hebatnya
aku hanya bisa berkata "aku bahagia" pada saat itu
seperti yang kamu tahu aku adalah tipe orang yang jujur
dimana pada saat senang aku tertawa dan menangis dikala sedih
tapi tadi siang adalah berbeda
aku tidak bisa tertawa karena semua beban kuliahku kulepas semua melalui tangisanku
aku juga sangat senang dengan semua pengalaman di perguruan tinggi
teman2ku semua percaya padaku, karena kupancarkan sinar bahagia dalam mataku
dan mereka semua melihatnya, dan mereka juga paham karena mereka semua adalah teman baikku

namun, ketika aku mulai tersenyum mereka lebih heran lagi
bukan karena aku mulai menikmati rasa bahagia
tapi karena mereka merasakan suasana kesedihan dalam binar mataku dibalik senyumanku di bibir
ya, disitulah aku mulai menapaki puncak rasa kecewa
hasil kerja kerasku selama di bangku perguruan tinggi untuk benar-benar membanggakan ayah dan bunda
justru tidak disaksikan mereka
mereka yang justru bekerja banting tulang setiap hari demi anak2nya agar bisa menimba ilmu di pendidikan formal terbaik
mereka malah menjadi terlalu sibuk dan memang tanggung jawab mereka begitu besar
tanggung jawab yang berangkat dari jiwa sosial mereka juga yang tinggi
mereka kini masih di daerah Eropa Timur, dan aku tidak peduli nama negaranya apa
yang jelas mereka sedang mengurusi ratusan jiwa yang sedang kesulitan di daerah sana
hingga mereka pun terpaksa menunda menelponku (ini hanya dugaanku)
yah begitulah nasib jadi dokter yang banyak menemukan penemuan
kadang aku berharap bisa seperti mereka
namun bidangku berbeda jauh dengan mereka
aku lulusan sekolah seni, aku juga belum bisa berpikir bisa apa aku dengan karyaku agar bisa hidup bersosial seperti mereka
aku kini hanya masih mencoba mengerti terhadap mereka

*kutulis dalam tebalnya senyumku dan deras air mata





tertanda Yesika
 pada tanggal yang tidak ingin teringat

2 komentar:

  1. assalamualaikum,
    wah ini tho blognya?!keren2!
    salam ceria dan semangat menulis, ryan!

    BalasHapus
  2. waalaikumsalam
    makasih ya mar,hehe:D

    BalasHapus